Kamis, 14 September 2017

Langit dan Bulan

Adalah Langit, pria berusia 30 tahunan dengan perawakan yang tinggi, tegap dan tampan. Dia bekerja sebagai konsultan bagi sebuah perusahaan swasta. Dia mencintai seorang wanita bernama Bulan, sebelum ia mencintai wanita lain.

Adalah Bulan, wanita berusia akhir 20an dengan perawakan yang mungil, manis, dan mata yang bulat. Dia bekerja sebagai desainer interior dalam sebuah perusahaan interior terkemuka di Jakarta. Dia mencintai seorang pria bernama Langit, dan terus mencintainya meskipun ia tau bahwa Langit mencintai wanita selain dirinya.

Sore itu Langit mendapatkan kabar yang tidak mengenakan hati. Bulan ditemukan tak sadarkan diri di meja kerjanya di perusahaan. Kabarnya karena kelelahan yang teramat sangat. Setelah mendengar kabar tersebut, langsung saja Langit berlari ke rumah sakit tempat Bulan dirawat meskipun masih banyak pekerjaannya tertumpuk.

Langit memasuki kamar tempat Bulan dirawat. Disana terbaring Bulan yang masih tak sadarkan diri. Langit mendekatinya dan memegang tangannya, dan ia baru menyadari bahwa seorang yang telah ia nikahi selama 4 tahun ini sudah berkurang berat badannya hingga ia bisa merasakan tulang Bulan yang hanya terbungkus kulit.

Beberapa saat kemudian, Bulan membuka matanya dan melihat Langit. Ia tersenyum.

"Akhirnya kamu datang", kata Bulan.
"Sudah tidak usah banyak bicara. Kata dokter kamu perlu istirahat banyak. Mau aku belikan sesuatu?"

Bulan menggeleng. Ia menggenggam tangan Langit lebih erat.

"Tidak, aku hanya ingin kamu tetap disini. Setiap kamu pergi, aku khawatir bahwa suatu saat kamu tidak akan pernah kembali lagi." Kata Bulan, setetes air mata keluar dari sudut matanya.

Langit menyeka air mata Bulan. Dalam hatinya terbesit sedikit rasa penyesalan. Penyesalan bahwa ia tau kalau Bulan tau bahwa dirinya telah meretakkan cintanya dan Bulan, tetapi ia tidak berusaha untuk mengutuhkannya kembali. Baginya, Bulan terlalu baik, bahkan untuk membencinya. Dan benar apa yang dipikirkannya, memang Bulan terlalu baik untuk membencinya.

"Kamu, tidak akan pergi lagi kan?" Tanya Bulan dengan penuh harap, sama seperti harapnya setiap malam sebelum akhirnya Langit pergi meninggalkan pintu rumah mereka untuk bertemu wanita lain. Sama seperti harapnya sembari menunggu Langit kembali sampai ia tidak menghiraukan suara perutnya yang minta diisi.

Langit menggeleng dengan senyumnya. Senyum yang menyiratkan bahwa selama Bulan sakit, ia akan tetap di samping Bulan. Setelahnya, akan mereka bicarakan nanti.

Setelah melihat senyum Langit, Bulan bisa menetapkan harapannya sejenak. Setidaknya untuk kali ini, ia yakin Langit hanya untuknya seorang.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar