Selasa, 12 Desember 2017

Menunggu Hujan

Sore itu, kita meneduh dari hujan deras, sesekali tempias hujan mengenai wajah kita.

"Sepertinya masih lama hujannya,"

Ia tersenyum, "Tidak apa, selama aku menanti hujan reda bersamamu."

Ia tersenyum kembali kepadanya, "Terima kasih, karena sudah ada disini bersamaku, karena sudah ada disini saat aku jatuh dan terluka. Terima kasih karena sudah menguatkanku. Maafkan aku jika aku banyak menangis."

"Tidak apa. Memang, banyak rintangan yang kamu hadapi dalam hidup, mulai dari terkucilkan di masa kecil, terfitnah di masa remaja, dan terpuruk saat kamu beranjak dewasa.

Sudah berapa kali kamu berpikir untuk pergi saja dari dunia? Tapi toh, kamu tetap bertahan.

Kamu tetap menghadapi dunia dengan senyuman, meskipun beberapa dibalik senyummu itu menyimpan tangis. Tapi hey, kamu berhasil menyembunyikannya dari orang-orang. Bahkan kamu berusaha untuk menyebarkan energi positif kepada orang-orang disekitarmu, meskipun beberapa kali kamu ketahuan gagal, haha. Dan aku bangga denganmu karena sudah bertahan. Just live. Tetap bertahan, oke?"

Ia pun mengangguk, memeluknya.

...

Dan gadis itu memeluk dirinya sendiri.

Sabtu, 09 Desember 2017

Moderator Dadakan

Semua ini berawal dari satu pertanyaan, "Mau jadi moderator nggak?"

Moderator?

Sejujurnya aku belum pernah menjadi moderator *hahaha*.

Menjadi moderator diskusi di kelas mungkin pernah sesekali. Untuk perform di depan umum pun hanya pernah sekali-dua kali jadi MC, itu pun bukan MC acara besar yang dihadiri ratusan orang.

Malam itu, tawaran yang dilontarkan dari Kak Muza, kakak senior di asrama, aku pikirkan. Ragu pasti ada. Bahkan sangat ragu! Betapa tidak, begitu ditawari pertama kalinya untuk menjadi moderator, acaranya setingkat nasional di Balairung, dan besok pula. What a challenge!!!

Sekilas penjelasan, acara tersebut bernama Indonesia Citizen Summit 2.0 yang bertujuan untuk mewadahi gerakan bersama sesuai dengan poin SDGs yang digagas oleh UN (United Nations) beserta negara-negara yang ikut serta dalam tujuan tersebut, termasuk Indonesia. Dan yang membuat aku excited  adalah... aku ditawari untuk menjadi moderator pada poin SDGs kelima, yaitu Gender Equality.. YEAYYYYY.. MY LUCK!!  
note : thanks to Izza yang sudah merekomendasikan diriku pada Kak Muza, luv you :3

Setelah menerima tawaran (dengan bismillah dan innalillahi), akhirnya aku mempelajari materi-materi yang mungkin berguna untuk mempersiapkan diri besok, seperti bagaimana cara menjadi moderator yang baik, bagaimana cara bersikap di depan umum yang baik, dan tentu saja materi mengenai kesetaraan gender dalam poin SDGs.

Esoknya, setelah kerja kelompok (maaf ya teman kelompok waktu itu diriku ijin nggak kumpul kelompok sampai selesai hehe), aku segera menuju Balairung. Dan ternyata audiensnya tidak 'seseram' yang aku bayangkan sih. Antara lega dan kecewa gitu karena pesertanya sedikit (mungkin bisa jadi masukan juga buat panitia acara :)). Tapi tidak apa, lihat dari sisi positifnya. At least, jika saya bertingkah memalukan, tidak begitu banyak yang lihat :P

Selama menunggu, aku terus berusaha untuk meredakan debar (asiik, kayak jatuh cinta) yang terasa. Beberapa kali menanyakan ke panitia kapan narasumbernya datang, supaya bisa mencairkan suasana dulu dengan narasumber gitu maksudnya. Untungnya narasumber datang beberapa saat sebelum sesi SDGs kelima dimulai, sehingga kami sempat berbincang sebentar.

Alhamdulillah, meskipun agak tergagap dan tergugup di awal, semua bisa teratasi dengan baik. Memang terasa sekali deg-degannya begitu naik ke atas panggung, tapi begitu sudah terbiasa dengan 'hawa' panggung, rasa deg-degan berkurang dengan sendirinya.

Dari pengalaman ini, aku banyak belajar. Belajar bagaimana cara menjadi moderator, belajar lebih dalam mengenai kesetaraan gender pada poin SDGs kelima, dan tentunya belajar tentang bagaimana cara mempersiapkan diri dalam waktu yang singkat, alias MENDADAK! hehehe...

Sekali lagi terima kasih atas kesempatannya Kak Muza dan kawan-kawan panitia. Semoga acaranya bisa lebih baik lagi ke depannya, karena sejujurnya, konsep acaranya keren bangettt!!
Makasih juga buat Izza yang sudah menjerumuskan  merekomendasikan diriku pada Kak Muza. Pokoknya love you lah Za :3
Makasih juga buat temen-temen yang sudah datang, salah satunya lele yang sempat membuat instatory, hahaha.

And the last, I want to share what Oscar Wilde said once : 
Experience is the hardest kind of teacher. It gives you the test first and the lesson afterward. 

poster acara

bersama kak yuli, kak muza, dan izza

Senin, 20 November 2017

I will make a coffee for You

Someday, I'll make a coffee for you,
not because I'm your wife,
but because I love you

If I make a coffee for you because I'm your wife,
it's became a duty, not a gift

So someday,
I will make a coffee, a breakfast, and a dinner for you,
because I love you,
and because I want to give you a gift everyday
not because I'm doing my duty as a wife

Sabtu, 18 November 2017

Bolehkah Aku Melajang?

Jika sunah sepertiga malamku sering alfa,
Maka mengapa harus aku laksanakan sunah untuk menyempurnakan separuh agama?
Bolehkah aku melajang?

Jika baktiku pada orangtua belum sempurna,
Maka mengapa harus aku baktikan hidupku pada seorang pria?
Bolehkah aku melajang?

Jika cintaku padaMu belum begitu utuh,
Maka mengapa harus aku bagikan cintaku hanya pada seorang makhlukMu?
Bolehkah aku melajang?

Bolehkah?
Ataukah ini hanya resahku saja?

Kamis, 16 November 2017

Pulang

Ya Allah, aku lelah
Aku lelah jika harus tertawa untuk melupakan kesedihan
Aku lelah jika harus bersua untuk melupakan kesepian

Ya Allah, aku ingin pulang
Besar keinginan untuk rehat sejenak
Mengistirahatkan jiwa raga dari segala resah

Tapi Ya Allah, aku takut
Aku takut untuk pulang sendiri
Karena bila begitu adanya, mungkin pintuMu akan tertutup di depanku
Sedangkan aku ingin beristirahat dengan tenang

Maka dari itu Ya Allah,
Aku bertanya-tanya bilamana diriku Kau jemput
Dan lelah ini, biarkan jadi bekal untuk perjalanan pulangku
Sedangkan kisahku, aku serahkan segalanya padaMu

Kamis, 09 November 2017

Siklus

Temu,
Sapa,
Suka,
Pendam,
Sakit,
Harap,
Suka,
Pendam,
Sakit,
Sendiri...


Siklus yang berulang
dengan rupa yang berbeda
dengan kemawasan diri yang meningkat

Tapi ah, tetap saja
pada akhirnya aku sendiri
membiarkan yang lain berlarian kepadamu
sedangkan aku harus mencukupkan diri
untuk memandangmu dari jauh
dan membaca kisahmu sembari tersipu

Minggu, 01 Oktober 2017

Sedikit Penjelasan tentang Kekerasan Berbasis Gender (dan cerita pengalaman magang)

Pada liburan semester genap kemarin, saya berkesempatan untuk magang di Satuan Pelayanan Terpadu Jawa Tengah (atau yang biasa disingkat dengan SPT Jateng). SPT Jateng ini merupakan satuan pelayanan yang berada di bawah garis koordinasi dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Tengah yang berfungsi untuk melakukan koordinasi kepada pihak terkait apabila ada kasus masuk yang berkaitan dengan kekerasan perempuan dan anak. Pihak terkait disini adalah pihak yang ikut membantu penyelesaian kasus yang masuk, di antaranya yaitu kepolisian, RSUD, dan psikolog.

Sedikit cerita,  job desc yang saya miliki disitu sebenarnya nggak terlalu kaku *alias nggak ada job desc, hehe*, karena sebenarnya SPT Jateng sendiri tidak memiliki program khusus untuk mahasiswa magang. Jadi kerjaan saya kurang lebih membantu pekerjaan yang ada di SPT Jateng dan ikut observasi koordinasi yang dilakukan untuk penyelesaian kasus yang masuk. Pernah juga saya menemani korban di rumah sakit. Meskipun tidak ada jobdesc yang pasti, but I've learned a lot about violence against women and children, termasuk tentang Kekerasan Berbasis Gender.

Mungkin ada yang belum pernah mendengar Kekerasan Berbasis Gender? dan mungkin ada yang belum tau perbedaan Kekerasan Berbasis Gender dan perbedaannya dengan bentuk kekerasan yang lain? Sama, sebelum magang saya juga belum tau. But here it is, saya ingin sharing beberapa hal terkait itu.

Berdasarkan pada PKBI DIY (n.d.), Kekerasan Berbasis Gender (KBG) merupakan kekerasan yang berlandaskan pada asumsi gender dan atau seksual tertentu. Maksud dari asumsi gender adalah terkait dengan sifat atau karakteristik dari gender yang biasa menjadi korban (dalam blog ini lebih terfokus pada perempuan). Misalnya kekerasan seksual seperti perkosaan yang dilakukan oleh pelaku karena menganggap wanita lemah dan tidak berdaya untuk melawan. Ada beberapa kasus kekerasan yang dapat digolongkan ke dalam KBG, di antaranya yaitu perkosaan, termasuk intimidasi dan pemaksaan aktivitas seksual, pemaksaan aborsi, pemaksaan perkawinan, penelantaran ekonomi dan pemiskinan, maupun tradisi bernuansa seksual dan lainnya yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan (PKBI DIY, n.d.).

Berdasarkan hasil pengamatan fenomena yang terjadi di lapangan pada saat melaksanakan magang, masih banyak KBG yang terjadi (khususnya di Jawa Tengah) dan sangat merugikan pihak perempuan. Tidak hanya satu atau dua korban yang datang dengan masalah seperti perkosaan, penelantaran ekonomi oleh suami, bahkan pengancaman dan kekerasan dalam rumah tangga. Akhirnya, banyak dampak yang ditimbulkan akibat KBG yang dialami oleh korban, di antaranya yaitu rasa malu, kurangnya produktifitas, dan bahkan trauma yang membekas.

Dalam opini saya KBG bisa kita cegah dan atasi. Selain dari penegakan hukum seperti pengesahan RUU kekerasan seksual, salah satu yang bisa dilakukan yaitu dengan penanaman cara pikir (paradigma) terkait gender, khususnya kesetaraan gender. Kesetaraan gender disini lebih ditekankan pada kesetaraan hak yang dimiliki wanita baik dalam hal pendidikan, rasa aman, maupun yang berhubungan dengan consent dalam aktivitas seksual. Apabila cara pandang terkait kesetaraan gender bisa tercapai, maka bukan hal yang mustahil tingkat KBG di Indonesia akan berkurang.

Special thanks to :
Semua pihak yang sudah membantu, dan memberikan banyak pelajaran pada saya selama kegiatan magang di SPT Jateng. Terkhusus kepada Bu Sri Kusuma Astuti selaku kepala DPPPA Dalduk KB Jateng, Pak Zaenal Arief Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian, Bu Isnaini Sulistyawati selaku kepala SPT Jateng dan Pak Hanityo selaku kepala TU SPT Jateng, dan juga mas dan mbak (Mbak Mawar, Mbak Rias, Mbak Riris, Mbak Yani, Mbak Novi, Mas Misrin, Mas Ian, dan Mas Adib). Sekali lagi terima kasih banyak kepada semua pihak, termasuk yang tidak saya sebutkan (karena saking banyaknya), saya sangat beruntung bisa belajar banyak dari SPT Jateng, dan semoga ilmu yang saya dapat bisa bermanfaat.

Source (and for further reading) : http://pkbi-diy.info/?page_id=3540