Rabu, 21 Juni 2017

Bahagia yang sederhana

Cerita ini adalah cerita tentang hari kemarin, dimana ada beberapa kebahagiaan yang aku rasakan. Kebahagiaan yang mungkin sederhana untuk dipikirkan, tapi istimewa bila dirasakan,

Kebahagiaan pertama ku rasakan pada saat ke kariadi dengan tujuan meminta surat keterangan dokter untuk bapak. Setelah sampai di RS Kariadi, aku mengutarakan tujuanku. Selang beberapa saat, aku  diminta oleh suster untuk menunggu bagian administrasi yang mengurus surat keterangan dokter di ruang suster. Lalu aku masuk dan duduk di sofa yang ada di dalam ruang tunggu tersebut.

Bosan menunggu, aku pun membuka hp dan memainkan sebuah game yang ada di hp. Beberapa saat setelah menunggu (sambil main hp) di ruang suster, seseorang masuk dan duduk di sofa persis disebelahku. Kita sebut saja seseorang itu adalah mas dokter.

Sebagai informasi, mas dokter adalah dokter muda (perkiraan usia 20 akhir-30 awal) yang bertugas di bagian cardiovascular tempat bapak dirawat. Beliau seperti tipe pria jawa yang kalem, perawakan tinggi berisi, dan mata sayu karena lelah kurang tidur (dari observasi sederhana).

Sejak beberapa hari menginap di RS untuk menemani bapak, aku beberapa kali melihat mas dokter mondar-mandir dengan jas putihnya dan beberapa file di tangan. Dari perawakan dan tingkah lakunya, terpancar aura "wah dokter ini keren ya" yang membuatku terkagum padanya.

Lanjut pada cerita di ruang suster, mas dokter duduk di sebelahku dan mulai membuka hpnya. Zeengg.. disitu aku merasa canggung sekali karena tidak ada bahan obrolan. Berapa kali terpikir untuk menyapa "hai dok, gimana kabarnya" "Habis periksa pasien, dok?" sampai rencana untuk menoleh dan cuma tersenyum menyapa mas dokter. Tapi rasa canggung mengalahkan keberanian untuk menyapa. Disamping itu, aku sudah terlanjur terlihat main game di hp waktu itu, sungguh bukan first impression yang baik (untuk memulai pembicaraan dengan mas dokter).

Akhirnya kebekuan itu dipecahkan oleh suster yang masuk membawa form surat keterangan dokter. Form itu oleh suster langsung diberikan ke mas dokter.

Kemudian mas dokter mulai membuka obrolan sembari mengisi form surat keterangan dokter.

"bapaknya dosen ya?
"iya"
"dosen dimana?
"UIN"
"Ini suratnya, nanti dikasih amplop sama suster ya" katanya sambil memberikan suratnya padaku.

Yeah, maybe its just a little talk, but its really meant something for me...

Buatku yang cuma bisa lihat mas dokter mondar-mandir, siang itu aku merasa bahagia karena bisa mengobrol sepatah-dua patah kata dengan mas dokter.

Tapi ya tetap saja, kagum hanya sebatas kagum, kagum karena dedikasinya sebagai dokter terhadap kesembuhan pasien. Mantap!

Kebahagiaan kedua kurasakan ketika pergi ke toko musik yang ada di jl Pandanaran Semarang. Singkat cerita tujuanku ke toko musik adalah membeli adaptor keyboard yamaha yang colokannya bengkok akibat terjatuh karena kecerobohanku dalam mengepel sehingga menyenggol adaptor tsb (panjang ya lol).

Kembali ke toko musik, setelah menyampaikan niat hati kepada mbak penjaga toko, adaptor yang akan ku dibeli oleh mbak penjaga diberikan kepada mas-mas bagian keyboard. Kita sebut saja mas keyboard.

Setelah adaptor dicobakan ke keyboard, mas keyboard bertanya kepadaku "emang adaptor yang lama kenapa mbak?"

"ini mas, colokannya bengkok, kayak gini" aku menunjukan adaptor yang lama ke mas keyboard.

Tanpa sulap, tanpa sihir, tiba-tiba colokan keyboard yang bengkok itu bisa diluruskan kembali sama mas keyboard.

"Loh mas, nggak jadi beli adaptor, nggak apa jadinya?"
"Nggak apa mbak, malah hemat uangnya buat lebaran"

Alhamdulillah, ternyata kebaikan kecil dari orang lain bisa membuat hati kita bahagia ya. Mungkin itulah mengapa sebagai manusia seharusnya kita selalu berusaha untuk menjadi orang baik, karena sekecil apapun perbuatan baik kita bisa berarti kepada seseorang, bukan?

Kebahagiaan ketiga adalah kebahagiaan yang paling membahagiakan yang ku rasakan di hari kemarin. yaitu bisa tarawih di masjid untuk pertama kali dalam ramadhan ini, yeaaaay!

Kebahagiaan ini merupakan perwujudan kerinduan akan tarawih di masjid, karena sebelumnya selalu berhalangan untuk tarawih di masjid mengingat kondisi yang tidak memunkinkan untuk meninggalkan orang tua berdua di rumah dengan keadaan bapak yang masih perlu banyak dibantu. Alhamdulillah kemarin bisa ke masjid karena keadaan bapak sudah stabil.

Kebahagiaan yang sederhana ini, entah mengapa begitu berkesan. Mungkin karena kebahagiaan ini datang setelah kesedihan yang dialami selama awal ramadhan kemarin ketika keadaan bapak masih belum stabil.

Bukankah Allah telah berjanji bahwa di setiap kesusahan terdapat kemudahan, dan juga janji Allah itu benar? Maka kenapa kita harus terus menerus dalam kesedihan?

Semoga kita semua selalu menjadi orang-orang yang berbahagia :)

Sabtu, 17 Juni 2017

Nikmat yang Sederhana

Dalam postingan kali ini, aku mau cerita tentang pengalaman ramadhan (on going sebenarnya hehe) tahun ini, dimana ramadhan kali ini keluarga kami diberikan nikmat (dalam bentuk cobaan) dari Allah.

Cerita ini diawali dari telepon ibu di pagi buta, saat sahur pada ramadhan hari kedua. Lewat telepon, ibu memberitahu bahwa bapak terkena serangan jantung dan dirawat di rumah sakit di Kuningan, (karena pada saat terjadinya serangan jantung, bapak dan ibu sedang berada di Kuningan, jadi dilarikan ke RS Kuningan dulu). Pada saat itu, entah apa yang terlintas di pikiran, ada rasa sedih, bingung (karena yeah, masih UAS pada saat itu), atau rasa apalah itu yang aku sendiri bingung untuk mendefinisikannya. Pokoknya semua emosi negatif berkecamuk di dalam diri waktu itu.

Long story, setelah 6 hari dirawat di Kuningan, kondisi bapak tidak kunjung membaik, yang ada justru kondisi bapak drop waktu itu. Akhirnya dirujuklah bapak ke RS Kariadi di Semarang.

Long story lagi (pokoknya panjang lah kalo diceritain gimana lelahnya berada di RS selama itu), selama 8 hari bapak dirawat di RS Kariadi. Di RS itu juga Bapak diberi tindakan berupa pemasangan ring 2 biji.

Alhamdulillah selama di Semarang, banyak pihak yang memberi dukungan, baik fisik maupun non fisik kepada bapak dan keluarga. Seharusnya ini meringankan beban yang dirasakan bapak, ibu dan juga aku. Tapi entah kenapa sampai saat ini ada rasa sedih yang nggak bisa dihilangkan dari dalam diriku sendiri,

Yap, rasa sedih itu adalah rasa sedih karena tidak bisa menikmati ramadhan seperti biasanya.

Semenjak bapak pulang, banyak penyesuaian yang harus dilakukan di rumah. Mulai dari penyesuaian fisik rumah seperti letak perabot yang harus memfasilitasi mobilitas bapak, sampai penyesuaian non fisik seperti pengaturan jadwal makan dan minum obat. Penyesuaian yang dilakukan tidak cukup sampai situ. Kami, ibu dan anak-anak beliau juga harus menjaga perilaku kami supaya tidak menambah pikiran bapak yang bisa berisiko membuat bapak mengalami serangan lagi. Pernah suatu hari ketika aku kebanyakan tidur, ibu menceramahiku karena bapak mengeluh sama ibu kenapa anak-anak kebanyakan tidur. Itu cuma satu dari keluhan-keluhan bapak lainnya.

Aku sendiri tidak bisa menyalahkan bapak, karena aku paham bapak berprilaku seperti itu bukan berdasarkan kesadaran bapak sendiri. Bapak yang aku kenal sehari-hari juga bukan bapak yang sekarang kami hadapi. Mungkin rasa sakit yang bapak rasakan sudah mengalahkan bapak yang dulu sangat kuat dan tegar.

Suatu hari, ibu menceramahi lagi suatu hal dari sekian ratus ceramahnya (yang aku paham pasti ibu juga merasakan kelelahan, bahkan lebih lelah dari diriku), "namanya juga takdir, teh"

Iya, aku tau ini takdir, ucapku dalam hati.

Tapi kan ini takdir yang sebenarnya bisa dicegah! Andai saja bapak tidak merokok, andai saja bapak tidak suka begadang, dan andai saja bapak rajin olahraga, tentu saja mungkin keadaannya bisa berbeda dari sekarang.

Mungkin saja kita sekeluarga bisa bertarawih bersama ke masjid seperti biasa, mungkin saja kita sekeluarga bisa berbuka sesekali di luar bersama, dan pengandaian-pengandaian lain yang aku buat.

Tetap saja, keadaan yang saat ini merupakan keadaan yang harus dihadapi, bukan?

Mungkin Allah sayang pada keluarga kami sehingga kami dihadapkan dengan cobaan seperti ini, supaya kami sekeluarga tau betapa nikmat yang sederhana yang kami rasakan di ramadhan-ramadhan seperti biasa merupakan nikmat yang harus disyukuri. Karena mungkin tidak setiap tahun kami, dan kita semua bisa merasakan nikmat yang sederhana itu.

Mungkin Allah memberi teguran supaya kita bisa lebih mensyukuri nikmat yang sederhana itu kelak. Mungkin.

Senin, 24 April 2017

My First Crush

Akhir-akhir ini saya sering sekali mendengar kabar tentang pernikahan, pasangan, dan lain-lain. Haah, meskipun saya sebenarnya belum berminat untuk menuju ke pelaminan, akan tetapi sebagai seorang single yang ingin memiliki pasangan hidup (asiik), saya merasa sedikit 'terganggu'. Terganggu? Bukan, bukan karena saya dengki dengan kebahagiaan mereka yang sudah mendapat pasangan (but a little, hehe), akan tetapi karena saya belum bertemu dengan 'that person' yang benar-benar membuat saya merasa bahwa saya harus berbagi hidup dengannya.

Ketika saya sudah mengetahui apa itu perasaan 'suka', kemudian menyukai seorang laki-laki, saya selalu memendam perasaan itu. Belum pernah secara terang-terangan saya bilang "saya suka kamu". Alasannya simpel, pertama karena malu. Malu karena saya merasa belum begitu 'cantik', 'solehah', dan 'pintar' untuk bisa mencintai seorang laki-laki. Kedua, karena saya sendiri belum siap menapaki jenjang yang lebih jauh.

Dua alasan diatas tidak berlaku ketika saya duduk di sekolah dasar. Dahulu saya merasa masa bodo untuk hal-hal seperti ini, hehe, (Can you imagine how bad I was?). Itu pun bukan rasa suka yang benar-benar "menyukai" (mungkin) karena teman-teman sekeliling saya pada saat itu juga rata-rata memiliki 'crush'. Alasannya karena lingkungan, tidak lebih. Kecuali seseorang yang saya temui kurang lebih 13-14 tahun lalu.

Saya dan dia bersama dalam dalam satu sekolah dan (juga) satu mobil antar jemput. Sebagaimana anak kelas 3 SD seperti biasa, saya masih suka bermain-main dengan semua teman. Tapi ada satu teman yang saya merasa beda dengan yang lain. Banyak kebaikan yang dia lakukan pada saya kalau diingat-ingat, meskipun pada saat itu saya tidak menyadari kalau sebenarnya yang dia lakukan pada saya itu baik banget (kalau misal dia lakukan itu sekarang, kali aja saya sudah baper).

Kebaikan dia yang saya ingat adalah meminjamkan saya krayon dan mengajari saya mewarnai. Iya, simpel. Dia adalah seorang yang lumayan hebat dalam mewarnai, dibuktikan dengan piala lomba mewarnai yang mungkin sudah tidak terhitung bahkan ketika baru duduk di kelas 3 SD. Mungkin dia adalah satu dari sekian anak yang memiliki krayon dengan warna lebih dari 12 buah, suatu hal yang langka pada saat itu. Singkat cerita, pada pelajaran kesenian, dia menghampiri saya dan melihat gambar saya. Kemudian dia memberi saran pada saya untuk mewarnai gambar yang telah saya buat dengan teknik gradasi. Waw, sebagai anak kelas 3 yang belum mengetahui teknik gradasi, saya dibuat kagum olehnya. Saya juga diperbolehkan untuk meminjam krayon dia yang banyak macam warnanya.

Selain kebaikan hatinya, saya juga merasa 'nyambung' ketika ngobrol dengannya. Obrolan yang paling saya ingat pada saat itu adalah obrolan mengenai episode terakhir drama korea 'Endless Love' yang pada saat itu sedang tayang di salah satu tv swasta. Kami mengobrol banyak tentang bagaimana akhir cerita dari drama korea tersebut. Dan yang paling saya ingat pada saat itu adalah dia memperagakan ketika tokoh utama yang mati karena tertabrak. Sungguh pembicaraan anak SD kecepetan puber karena nonton drama korea.

Terakhir saya bertemu dia adalah ketika kelas 3 SD, karena tahun selanjutnya saya pindah ke sekolah yang lebih jauh dari rumah saya. Dan dia? Dia juga pindah sekolah juga. Katanya dia pindah ke pondok pesantren hafalan Quran, saya lupa apa namanya dan dimana daerahnya. Pernah suatu hari, pada saat saya bermain dengan teman saya yang dahulu satu sekolah dengan saya, teman saya bercerita bahwa dia pernah satu kali mengunjungi sekolah kembali. Katanya dia menjadi lebih kurus dari saat kelas 3 SD.

Bagaimana rupanya sekarang? Bagaimana keadaannya sekarang? beberapa pertanyaan tersebut sempat terlintas. Tapi, hey. buat apa? Interkasi yang pernah terjadi di masa lalu antara kita sekarang hanya sebagai kenangan. Toh aku yakin dia sekarang menjalani hidupnya dengan baik. Aku percaya hal itu karena dia adalah orang baik, dan aku percaya Allah akan selalu menjaga orang baik.

And I believe he is still a kind person as I know.

Selasa, 11 April 2017

Just a little review about my favourite "mind blowing" movies

Sebenarnya, beberapa minggu lalu ku berniat untuk rajin nulis review film, terutama sehabis nonton 3 film ini, rasanya gatel banget pingin nulis reviewnya.

Jadi 3 film ini ku pribadi suka karena film ini nggak cuma sekedar hiburan, tapi banyak unsur (terutama unsur psikologis) yang bisa membuat kita berkontemplasi (asiik).

3 film ini sebenarnya sama-sama bagus menurutku pribadi. Mungkin karena aku pribadi suka sama jenis film yang "mind-blowing" dengan ending yang tidak terduga, jadi aku amat sangat menikmati ketiga film ini. Meskipun ada beberapa kritikus film yang memberi kritik pada salah satu film dari yang ku tulis ini, tapi wajar lah ya, namanya juga karya :)

Catatan, post ini mengandung sedikit spoiler, jadi maaf ya yang belum nonton dan nggak suka spoiler, hehe. Yuk langsung aja..*drumrolls*

1. The Girl on The Train

Yap, ini film menurutku bagus banget. Film ini menceritakan tentang Rachel yang punya masalah dengan alkohol. Masalah dengan alkoholnya ini sangat berkaitan erat dengan masa lalu dia. Rachel ini setiap hari naik kereta yang melewati depan rumahnya dulu dengan mantan suaminya, dan juga bersebelahan dengan rumah seorang gadis yang setiap hari dia perhatikan. Suatu hari dia menemukan hal yang tidak biasa dengan gadis yang setiap hari dia perhatikan, dan buum.. terjadilah sesuatu hal yang membawa dia untuk berhubungan dengan masa lalunya. Kurang lebih seperti ini cerita garis besarnya. 

Kenapa film ini menjadi salah satu film "mind-blowing" favorit? Karena film ini sangat-sangat membuat kita menduga-duga akhirnya akan seperti apa. Kita nggak akan tau hubungan antar cerita kalau kita nggak lihat adegan per adegan karena adegan yang disajikan ke penonton sangat berkaitan. Penonton juga diberikan teka-teki yang kompleks untuk dipecahkan karena dari awal film kita tidak diberitahu siapakah dalang dibalik semuanya. Film ini juga dapat dikatakan bagus karena pengambilan sudut pandang tidak cuma dari satu tokoh, tapi dari sudut pandang beberapa tokoh yang membuat cerita menjadi suatu sudut pandang yang utuh. Dan akting dari para pemainnya juga sangat bagus. 

2.  A Man and a Woman 


Menurutku, film ini adalah salah satu film korea yang "ngena" tapi nggak lebay. Film ini menceritakan tentang seorang pria dan seorang wanita yang sama-sama sudah memiliki pasangan dan anak, akan tetapi tidak merasa nyaman dengan pernikahan mereka masing-masing. Dipertemukan dalam suatu acara perkemahan anak masing-masing, makin lama mereka menjadi semakin dekat. Mereka merasa bisa mencurahkan dan menerima kenyamanan satu sama lain yang tidak mereka dapatkan bersama pasangan mereka. Semakin mereka dekat, semakin banyak konflik yang terjadi dalam rumah tangga mereka. Mereka pun pada akhirnya harus memilih antara keluarga yang sudah mereka bangun atau kenyamanan yang mereka rindukan.

Meskipun tidak se"mind-blowing" film sebelumnya, jujur film ini juga memiliki akhir cerita yang tidak terduga. Justru dengan akhir cerita yang tidak terduga itu, cerita dari film tidak terkesan dipaksakan. Kalau bisa dibilang, film ini menggambarkan kehidupan pernikahan modern yang sangat dekat dengan realita. Pengambaran konflik yang dialami masing-masing tokoh disampaikan dalam film dengan sangat bagus, terlihat dari bagaimana film dapat memperlihatkan kompleksitas konflik yang dialami oleh masing-masing tokoh dari sudut pandang tokoh tersebut. 

Dan lagi, yang membuat bagus film ini (sangat subjektif kalau ini) adalah Gong Yoo Ahjussi, haha. But, it's broke my heart for seing he did (many) erotic acts :''' 

3. The Butterfly Effect

Nah, kalau ini bener-bener film yang sangat mind blowing dan tidak terduga. Film ini menceritakan tentang seorang laki-laki bernama Evan yang bisa mengubah masa depannya dengan mengubah sedikit bagian dari masa lalunya (nah loh bingung kan). Setiap kali ia mencoba mengubah masa lalunya, justru terjadi konsekuensi-konsekuensi lebih buruk yang tidak ia inginkan. 

Film ini menurutku sangat bagus karena beberapa hal. Pertama film ini sangat membuat penonton berpikir kelanjutan apa yang terjadi pada Evan. Meskipun di awal film agak sedikit membosankan, tapi di tengah film sampai akhir film, kita selalu dibuat berpikir bagaimana kelanjutan film ini. Selain itu, film ini juga memiliki kompleksitas cerita yang tinggi, dan kalau nggak nonton  dari awal dijamin akan bingung. 

Meskipun ada beberapa kritik terhadap film ini, tapi aku pribadi sangat tersentuh dengan film ini. Film ini membuatku berpikir lagi apakah sebenarnya hidup kita yang sekarang adalah hidup yang terbaik untuk kita. Jangan sampai kita menginginkan jalan hidup lain bagi kita, akan tetapi kita akan menyesal ketika suatu saat ketika kita memiliki kesempatan untuk mengubah hidup kita menjadi hidup yang dulu sangat kita inginkan. Bisa jadi hidup kita yang saat ini kita jalani memang hidup yang terbaik bagi kita dan orang-orang sekitar kita. Sederhananya, film ini membuat kita berpikir untuk terus mensyukuri hidup yang kita jalani sekarang.

Happy watching and contemplating :)

note : sumber foto dari google image

Senin, 27 Maret 2017

Tentang mimpi yang baru (dan mimpi yang tertunda)

Sesungguhnya post ini ditulis bukan karena aku tidak bersyukur atas apa yang aku dapatkan, sama sekali tidak. Post ini kutulis sebagai refleksi atas apa yang sebenarnya ku kejar dalam hidup ini.

Post ini berawal dari ketidakpuasanku selama berkuliah di salah satu universitas (yang katanya) terbaik di Indonesia. Entah kenapa selama hampir 3 tahun berkuliah disini, aku merasa tidak menikmati perkuliahan yang ada. Meskipun aku bersyukur dipertemukan dengan banyak orang baik, orang-orang hebat, akan tetapi tetap aku merasa ada yang kurang dalam hidup selama berkuliah disini.

Pada awal masuk, seperti kebanyakan mahasiswa baru, aku memiliki banyak mimpi meraih prestasi di kampus ini. IPK cum laude, pertukaran pelajar di luar negeri, dan lain-lain. Mimpi-mimpi itu kandas karena berbagai hal, seperti energi yang habis hanya karena memikirkan bagaimana caranya beradaptasi di lingkungan kampus. Entah berapa banyak liter air mata yang habis hanya karena hal sepele, salah satunya karena memikirkan apa yang sebenarnya aku kejar selama ini?

Menyesalkah aku? bisa dikatakan mungkin sedikit menyesal. Andai saja waktu itu aku berpikir lebih lama, andai saja waktu itu aku lebih memperhatikan apa yang sebenarnya aku inginkan, andai saja waktu itu aku sedikit lebih egois, dan banyak lagi andai-andai lain. Pada awalnya aku berpikir bahwa materi dan relasi merupakan keunggulan yang bisa aku dapat selama berkuliah disini. Ternyata untuk mendapatkan dua hal itu, aku harus mengeluarkan energi yang sangat besar, yang menurutku sangat tidak sebanding dengan apa yang aku dapat. Sungguh tidak sebandng.

Lalu, sebenarnya apa yang aku kejar? Pertanyaan itu masih menghantui setiap saat selama 3 tahun ini. Mungkin jika aku memang ingin mengejar apa yang orang-orang sebut dengan "keren", aku bisa berjuang untuk mendapatkannya. Mungkin jika aku memang ingin bertahan disini, aku akan berusaha lebih keras hingga tidak ada energi lagi yang tersisa. Tapi ternyata tidak, aku tidak menginginkan semua itu.

Yang sebenarnya aku inginkan adalah sebuah tempat hangat dimana aku bisa merasa aman dan nyaman berada disana. Yang aku inginkan adalah sebuah tempat dimana aku bisa menjadi diri sendiri. Tempat dimana aku bisa menyebut itu sebagai "rumah"

Dan mungkin itu mimpi baruku, sebuah mimpi yang tertunda.

Minggu, 19 Maret 2017

Sebuah Kata Cinta

Rey, kita sudah lama bersama, tidakkah itu cukup bagimu? Kita sudah mengalami hari baik dan hari buruk bersama. Aku tau segala kekuranganmu, begitupun kamu. Kita sudah berjanji akan melawan dunia beserta segala kekejaman dan keputusasaan yang ada didalamnya, dan kau tau itu. Bukankah kita saling mendukung satu sama lain?

Perubahan dirimu kurasakan pada suatu hari, ketika datang seorang pria dalam hidup kita. Aku melihat perubahan wajahmu saat aku menatapnya. Emosi yang menunjukan bahwa kau cemburu padanya.

Aku meyakinkanmu, "Tenanglah, persahabatan kita tidak akan berubah. Kita masih bisa jalan bareng, kan?"

Tapi kau ingin lebih dari sekedar persahabatan. Mungkin kau tidak ingin ada orang lain di antara kita. Mungkin kau ingin hanya kita berdua melawan dunia.

Maka, pada suatu malam, kau datang ke apartemenku, membawa sebuah senjata yang aku sendiri tidak menyangka kau bisa mendapatkannya darimana. Kau berkata bahwa kau sangat membutuhkanku dan tidak ingin ku dekat dengan pria lain. Ku lihat keputusasaan di wajahmu, sama seperti keputusasaanmu pada tahun-tahun yang kita lewati bersama.

Sama sepertiku, dengan keputusasaanku terhadap kehidupan dunia.

Maka, ku menghampirimu, dan memelukmu erat. Kau menjatuhkan senjatamu dan membalas pelukanku. Kita menangis bersama.

"Aku mencintaimu", katamu. "Bisakah kita melawan dunia hanya berdua saja?"

Aku mengangguk dalam pelukanmu. Kini ku tau, ku sudah terikat dalam keputusasaan bersamamu.  

Sabtu, 21 Januari 2017

Mr Slasherhand

Membosankan, kelas tambahan Mr Jack sore itu sama seperti hari-hari biasa. Mr Jack di depan membahas soal-soal yang tipenya sama seperti hari-hari sebelumnya. Ujian akhir dan ujian masuk universitas akan datang sebentar lagi, maka dari itu mungkin kejenuhan belajar sudah berada di ubun-ubun setiap murid karena setiap hari harus menghadapi soal yang sama jenisnya. Di barisan bangku belakang, teman-teman mulai berbisik-bisik membahas hal yang tidak berkaitan dengan pelajaran. Beberapa terlihat melamun. Tetap saja beberapa murid tetap memperhatikan Mr Jack, termasuk aku.

Mr Jack adalah seorang guru muda yang baru beberapa minggu berada di sekolah, menggantikan guru kami yang cuti melahirkan. Tak bisa dipungkiri, wajahnya cukup tampan dan badannya cuk up tegap. Jika kamu bertemu dia di pusat perbelanjaan, mungkin kamu tidak akan menyangka bahwa ia adalah seorang guru. Caranya berpakaian sangat rapi, terlihat dari rambut yang selalu tersisir rapi, kemeja yang selalu terlihat sehabis disetrika, dan sepatu yang selalu hitam seperti habis disemir. Mr Jack juga selalu wangi, selalu tercium wangi peppermint disamping wangi parfumnya yang khas.

Tak hanya penampilannya, dari caranya berbicara juga menunjukan bahwa ia memiliki kharisma yang khas. Nada bicaranya tenang, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Ia juga memiliki selera humor yang baik. Terkadang, ketika moodnya sedang baik, ia bisa mengeluarkan berbagai macam lelucon yang membuat seisi kelas tertawa.

Ia juga baik hati, kepada siapapun, termasuk aku. Sejak pertama kali masuk kelas, aku mungkin sudah menyukai Mr Jack. Terlebih ketika ia menyebut namaku dan menanyakan apa novel yang kusukai. “The Phantom of the Opera”, jawabku. Ia pun  tersenyum dan berkata, aku juga suka novel itu. Sejak saat itu, aku suka berbicara dengan Mr Jack. Sesekali datang ke ruangannya, yang dulunya adalah ruangan guru kami yang sedang mengambil cuti, untuk berbincang-bincang mengenai novel. Aku juga beberapa kali meminjam novelnya. 

Apakah aku berharap lebih? Tidak. Aku hanya menganggapnya sebagai guru yang menyenangkan. Begitu pula mungkin Mr Jack hanya menganggapku sebagai murid yang menyenangkan untuk diajak bicara. Lagipula, aku sudah memiliki seorang yang kuperhatikan di kelas, ketua tim basket sekolah. Walaupun mungkin perasaan ini hanya bertepuk sebelah tangan karena si ketua tim basket sekolah juga digosipkan dekat dengan temanku seorang ketua tim debat sekaligus ketua organisasi siswa di sekolah. Tapi bagiku tidak apa, toh, aku menikmati rasa suka ini.

Kelas sore itu diakhiri oleh pertanyaan Mr Jack. “Menurut kalian, siapa hipokrit yang paling jujur”

Seisi kelas terheran-heran. Semua berbisik. Beberapa mengerutkan kening seakan sedang memikirkan jawabannya. Kemudian, Mr Jack membuka website berita yang ditayangkan pada proyektor depan kelas. Berita tentang The Slasherhand.

Seorang murid bertanya, “ Mengapa kau bisa berpendapat seperti itu?”

Mr Jack menaikan alisnya. Kemudian ia tersenyum, “ Well, karena tidak seperti kebanyakan orang. Ia tidak menyembunyikan sisi jahatnya. Pun ketika Ia tertangkap suatu hari nanti, mungkin Ia tidak akan mengelak dan mengakui kejahatannya”

The Slasherhand, julukan bagi penjahat kriminal yang akhir-akhir ini menewaskan beberapa orang dengan cara yang tidak pantas, yaitu dengan menyayat leher korban secara horizontal. Tidak ditemukan adanya bekas penganiayaan dan perkosaan pada tubuh korban. Anehnya juga, tidak ditemukan bukti-bukti yang membawa penyidik kepada sosok asli The Slasherhand. Korban juga tidak ditemukan memiliki hubungan satu sama lain, seakan The Slasherhand memilih korbannya secara acak. Sejauh ini, sudah ada sekitar 12 korban yang semuanya berjenis kelamin perempuan dengan usia sekitar 17-23 tahun. Diperkirakan kematian korban pada waktu sore menjelang malam, dan ditemukan keesokan paginya.

Bel pun berbunyi. Murid-murid merapikan tasnya dan keluar satu persatu. Mr Jack duduk sejenak di kursinya dan terlihat menuliskan beberapa hal. Sambil membawa tasku, aku menghampiri Mr Jack.

“Mr Jack, aku ingin mengembalikan novel yang aku pinjam tempo hari”

Mr Jack menoleh, “Ya, tentu. Kamu mau menaruhnya di ruangan saya?”

“Baiklah”, kataku sambil mengangguk. Aku kemudian keluar kelas menuju ruangan Mr Jack.

Sekolah sudah sepi di sore hari. Hanya ada beberapa orang yang sedang berlatih basket di lapangan basket indoor. Sisanya hanya koridor kosong. Waktu sudah menunjukan bahwa sebentar lagi akan datang malam hari.

Aku memasuki ruangan Mr Jack. Ruangan ini disusun kembali oleh Mr Jack sehingga terlihat sangat rapi. Saking rapi dan bersihnya, seakan terlihat tidak ada debu setitikpun. Novel-novel milik Mr Jack tersusun rapi berdasarkan abjad penulis dan tahun terbit novel. Di samping meja Mr Jack, ada sebuah lemari kecil. Setiap memasuki ruangan Mr Jack, aku selalu penasaran dengan isi lemari itu karena sebelum Mr Jack datang, lemari itu tidak pernah ada.

Setelah aku menaruh novel di rak buku, aku tergoda untuk mengintip isi lemari itu. Aku menarik gagang lemari, ternyata tidak terkunci. Bau klorit bercampur dengan peppermint menguai ke udara. Ada map abu-abu serta tas ransel berwarna hitam di dalamnya. Ketika aku tergoda untuk membuka kedua hal itu, hati kecilku berkata ini bukan hal yang baik untuk dilakukan.

Tiba-tiba lampu ruangan mati. Aku terkejut. Detak jantungku meningkat dan napasku terengah-engah. Aku mulai mencari saklar lampu di samping pintu. Aku menekan saklar tersebut. Sial, tidak menyala. Aku mencoba menekan tombol saklar berkali-kali, tetap tidak menyala. Hingga kuputuskan untuk keluar dari ruangan, ternyata di depan ruangan sudah ada seseorang yang menungguku, Mr Jack!

Dengan senyumnya, Mr Jack menatapku. Senyumannya kali ini berbeda, seperti senyuman macan yang sudah menemukan mangsanya. Detak jantungku semakin cepat. Aku pun berlari meninggalkan koridor dan sekolah.

Hingga sampai pada ujung blok sekolah. Sekolahku berada di ujung kota sehingga kendaraan yang berlalu lalang tidak banyak. Gedungpun banyak yang ditinggalkan karena berbisnis di daerah itu tidak mendatangkan banyak keuntungan.

Oh, tidak. Aku lupa kalau bis sudah tidak melewati jalan di ujung blok sekolah pada waktu seperti ini, sehingga aku harus berjalan beberapa blok lagi hingga menemukan jalan raya. Tapi aku sudah tidak kuat berlari lagi.

Dengan napas terengah-engah, aku berhenti sejenak. Semburat merah sudah menanti di ujung horizon hendak memadamkan cahayanya. Angin malam mulai mengudara. Dari arah belakang, aku menghirup wangi yang tak asing lagi, wangi peppermint. Aku menoleh ke belakang. Ada sesosok bayangan tegap yang membawa sebilah pisau besar berjalan ke arahku. Aku membelalakan mata. 

Dengan mengumpulkan sisa- sisa kekuatan, aku berlari terus menyusuri beberapa blok.
Karena panik, aku tersadar bahwa aku berada pada sebuah jalan buntu. Tidak ada lagi tempat berlari maupun sembunyi. Wangi peppermint terus membuntuti, semakin dekat. Dengan segala kepanikan dan kebingungan, air mataku mulai menetes. Dari ujung jalan, mulai jelas terlihat sosok bayangan yang mengejarku, dengan senyumnya yang menawan dan mengerikan.


Mungkin akulah korban selanjutnya.      

Catatan :  

Cerita ini terinspirasi dari mimpi buruk yang aku alami, dengan beberapa perubahan. Tapi yang bagian dikejar-kejar itu benar adanya. Saking nyatanya, saat terbangun aku masih merasakan detak jantung yang meningkat. 

Kalau mau dihubungkan dengan teori dari Sigmund Freud, mungkin aku memiliki kecemasan akan suatu hal yang aku tekan (repression) sampai masuk ke alam bawah sadarku, kemudian kecemasan itu muncul dalam bentuk mimpi yang mengejar-ngejarku.

Alhamdulillah lah ya, dari mimpi bisa produktif menghasilkan cerita. Lain kali mungkin kalau mimpi, aku bikin cerita lagi.  

Tapi semoga mimpi selanjutnya adalah mimpi yang indah.