Minggu, 01 Oktober 2017

Sedikit Penjelasan tentang Kekerasan Berbasis Gender (dan cerita pengalaman magang)

Pada liburan semester genap kemarin, saya berkesempatan untuk magang di Satuan Pelayanan Terpadu Jawa Tengah (atau yang biasa disingkat dengan SPT Jateng). SPT Jateng ini merupakan satuan pelayanan yang berada di bawah garis koordinasi dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Tengah yang berfungsi untuk melakukan koordinasi kepada pihak terkait apabila ada kasus masuk yang berkaitan dengan kekerasan perempuan dan anak. Pihak terkait disini adalah pihak yang ikut membantu penyelesaian kasus yang masuk, di antaranya yaitu kepolisian, RSUD, dan psikolog.

Sedikit cerita,  job desc yang saya miliki disitu sebenarnya nggak terlalu kaku *alias nggak ada job desc, hehe*, karena sebenarnya SPT Jateng sendiri tidak memiliki program khusus untuk mahasiswa magang. Jadi kerjaan saya kurang lebih membantu pekerjaan yang ada di SPT Jateng dan ikut observasi koordinasi yang dilakukan untuk penyelesaian kasus yang masuk. Pernah juga saya menemani korban di rumah sakit. Meskipun tidak ada jobdesc yang pasti, but I've learned a lot about violence against women and children, termasuk tentang Kekerasan Berbasis Gender.

Mungkin ada yang belum pernah mendengar Kekerasan Berbasis Gender? dan mungkin ada yang belum tau perbedaan Kekerasan Berbasis Gender dan perbedaannya dengan bentuk kekerasan yang lain? Sama, sebelum magang saya juga belum tau. But here it is, saya ingin sharing beberapa hal terkait itu.

Berdasarkan pada PKBI DIY (n.d.), Kekerasan Berbasis Gender (KBG) merupakan kekerasan yang berlandaskan pada asumsi gender dan atau seksual tertentu. Maksud dari asumsi gender adalah terkait dengan sifat atau karakteristik dari gender yang biasa menjadi korban (dalam blog ini lebih terfokus pada perempuan). Misalnya kekerasan seksual seperti perkosaan yang dilakukan oleh pelaku karena menganggap wanita lemah dan tidak berdaya untuk melawan. Ada beberapa kasus kekerasan yang dapat digolongkan ke dalam KBG, di antaranya yaitu perkosaan, termasuk intimidasi dan pemaksaan aktivitas seksual, pemaksaan aborsi, pemaksaan perkawinan, penelantaran ekonomi dan pemiskinan, maupun tradisi bernuansa seksual dan lainnya yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan (PKBI DIY, n.d.).

Berdasarkan hasil pengamatan fenomena yang terjadi di lapangan pada saat melaksanakan magang, masih banyak KBG yang terjadi (khususnya di Jawa Tengah) dan sangat merugikan pihak perempuan. Tidak hanya satu atau dua korban yang datang dengan masalah seperti perkosaan, penelantaran ekonomi oleh suami, bahkan pengancaman dan kekerasan dalam rumah tangga. Akhirnya, banyak dampak yang ditimbulkan akibat KBG yang dialami oleh korban, di antaranya yaitu rasa malu, kurangnya produktifitas, dan bahkan trauma yang membekas.

Dalam opini saya KBG bisa kita cegah dan atasi. Selain dari penegakan hukum seperti pengesahan RUU kekerasan seksual, salah satu yang bisa dilakukan yaitu dengan penanaman cara pikir (paradigma) terkait gender, khususnya kesetaraan gender. Kesetaraan gender disini lebih ditekankan pada kesetaraan hak yang dimiliki wanita baik dalam hal pendidikan, rasa aman, maupun yang berhubungan dengan consent dalam aktivitas seksual. Apabila cara pandang terkait kesetaraan gender bisa tercapai, maka bukan hal yang mustahil tingkat KBG di Indonesia akan berkurang.

Special thanks to :
Semua pihak yang sudah membantu, dan memberikan banyak pelajaran pada saya selama kegiatan magang di SPT Jateng. Terkhusus kepada Bu Sri Kusuma Astuti selaku kepala DPPPA Dalduk KB Jateng, Pak Zaenal Arief Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian, Bu Isnaini Sulistyawati selaku kepala SPT Jateng dan Pak Hanityo selaku kepala TU SPT Jateng, dan juga mas dan mbak (Mbak Mawar, Mbak Rias, Mbak Riris, Mbak Yani, Mbak Novi, Mas Misrin, Mas Ian, dan Mas Adib). Sekali lagi terima kasih banyak kepada semua pihak, termasuk yang tidak saya sebutkan (karena saking banyaknya), saya sangat beruntung bisa belajar banyak dari SPT Jateng, dan semoga ilmu yang saya dapat bisa bermanfaat.

Source (and for further reading) : http://pkbi-diy.info/?page_id=3540

Senin, 25 September 2017

If I Die

Aku teringat pembicaraan kita berdua sore itu di sebuah lapangan,
entah kamu masih ingat atau tidak.

Siapa yang memulai pembicaraan ku lupa, yang ku ingat hanya jawaban atas pertanyaan yang kita ajukan.

"Menurutmu lebih baik orang tuamu yang mati duluan atau kamu yang mati duluan?"
"Kayaknya aku sedih kalo orang tuaku mati duluan, jadi mungkin aku yang lebih baik mati duluan", jawabku.

Kamu tersenyum,"Kalo aku pingin orang tua aku yang mati duluan"
"Kenapa"
"Soalnya, aku nggak ingin melihat orang yang aku sayangi bersedih"

Sampai saat ini, kalimat itulah yang membuatku berpikir untuk terus melanjutkan hidup dan menjaga semangat untuk tetap hidup. Salah satu tujuannya adalah supaya melihat orang-orang yang ku sayangi tetap bahagia

Terima kasih atas kalimat yang kau lontarkan sore itu,
entah kamu masih ingat atau tidak.    

Minggu, 24 September 2017

If I fall in love

What will you do
if I tell you
that I fall in love
with her
but she is wearing the skirt as me

What will you do
if I tell you
that I fall in love
with him
but he is going to church while I am going to the mosque

what will you do
if I tell you
that I fall in love
with him
but he is going forty and already has 2 children

what will you do
if I tell you
that I fall in love
with him
but he is just fourteen and still preparing for his final exam

what will you do
if I tell you
that I fall in love
with you?

what will you do?

Jumat, 22 September 2017

The Lost Years

I've gone for a while
crying for the memories that never leave
searching for the years I missed
leaving a hole inside me

I asked Him
whispering with tears
to send me someone
who can embrace me
but some people always come and leave
or maybe it is me who can't make them stay

So I decided to keep moving on
contemplating the years I've lost
and bring the dim light through me
which is the darkest place I've ever known

And for all, I'm not scared anymore.

Kamis, 14 September 2017

Langit dan Bulan

Adalah Langit, pria berusia 30 tahunan dengan perawakan yang tinggi, tegap dan tampan. Dia bekerja sebagai konsultan bagi sebuah perusahaan swasta. Dia mencintai seorang wanita bernama Bulan, sebelum ia mencintai wanita lain.

Adalah Bulan, wanita berusia akhir 20an dengan perawakan yang mungil, manis, dan mata yang bulat. Dia bekerja sebagai desainer interior dalam sebuah perusahaan interior terkemuka di Jakarta. Dia mencintai seorang pria bernama Langit, dan terus mencintainya meskipun ia tau bahwa Langit mencintai wanita selain dirinya.

Sore itu Langit mendapatkan kabar yang tidak mengenakan hati. Bulan ditemukan tak sadarkan diri di meja kerjanya di perusahaan. Kabarnya karena kelelahan yang teramat sangat. Setelah mendengar kabar tersebut, langsung saja Langit berlari ke rumah sakit tempat Bulan dirawat meskipun masih banyak pekerjaannya tertumpuk.

Langit memasuki kamar tempat Bulan dirawat. Disana terbaring Bulan yang masih tak sadarkan diri. Langit mendekatinya dan memegang tangannya, dan ia baru menyadari bahwa seorang yang telah ia nikahi selama 4 tahun ini sudah berkurang berat badannya hingga ia bisa merasakan tulang Bulan yang hanya terbungkus kulit.

Beberapa saat kemudian, Bulan membuka matanya dan melihat Langit. Ia tersenyum.

"Akhirnya kamu datang", kata Bulan.
"Sudah tidak usah banyak bicara. Kata dokter kamu perlu istirahat banyak. Mau aku belikan sesuatu?"

Bulan menggeleng. Ia menggenggam tangan Langit lebih erat.

"Tidak, aku hanya ingin kamu tetap disini. Setiap kamu pergi, aku khawatir bahwa suatu saat kamu tidak akan pernah kembali lagi." Kata Bulan, setetes air mata keluar dari sudut matanya.

Langit menyeka air mata Bulan. Dalam hatinya terbesit sedikit rasa penyesalan. Penyesalan bahwa ia tau kalau Bulan tau bahwa dirinya telah meretakkan cintanya dan Bulan, tetapi ia tidak berusaha untuk mengutuhkannya kembali. Baginya, Bulan terlalu baik, bahkan untuk membencinya. Dan benar apa yang dipikirkannya, memang Bulan terlalu baik untuk membencinya.

"Kamu, tidak akan pergi lagi kan?" Tanya Bulan dengan penuh harap, sama seperti harapnya setiap malam sebelum akhirnya Langit pergi meninggalkan pintu rumah mereka untuk bertemu wanita lain. Sama seperti harapnya sembari menunggu Langit kembali sampai ia tidak menghiraukan suara perutnya yang minta diisi.

Langit menggeleng dengan senyumnya. Senyum yang menyiratkan bahwa selama Bulan sakit, ia akan tetap di samping Bulan. Setelahnya, akan mereka bicarakan nanti.

Setelah melihat senyum Langit, Bulan bisa menetapkan harapannya sejenak. Setidaknya untuk kali ini, ia yakin Langit hanya untuknya seorang.  

Senin, 17 Juli 2017

Tentang Kehilangan

Kehilangan, judulnya terkesan sedih ya?

Tapi kehilangan-kehilangan yang kita alami terkadang membawa hikmah dan pelajaran hidup bagi kita.

Cerita pertama tentang kehilangan yang pernah ku alami adalah kehilangan gelang emas. Kehilangan ini terjadi pada saat aku kelas 1 SD. Saat itu aku membeli gelang mainan di sekolah, dan gelang emasnya aku copot. Aku lupa meletakan gelang emas itu dimana, jadinya ya hilang sudah. Kehilangan itu membuatku dihukum tidak mendapat uang jajan sebulan, walaupun tetap dibawain bekal makanan ke sekolah. Namanya orang tua meskipun menghukum anaknya, tetap pakai perasaan ya, hehe.

Cerita kedua tentang kehilangan jam Casio putih di pondok Gontor dulu pas kelas 1 SMP. Jam itu berharga karena selain mahal (iya jam Casio asli), jam itu juga pemberian dari nenek sehabis pulang dari mekkah. Kejadian hilangnya jam itu aku tidak ingat persis. Yang jelas saat sekolah, tiba-tiba saja hilang. Entah tertinggal atau ada yang mengambil. Kehilangan itu, meskipun sudah tidak dihukum orang tua lagi, membuatku merasa sedih. Terkadang rasa sedihnya sampai membuatku menangis secara tidak sadar.

Cerita kehilangan di pondok tidak hanya itu. Kehilangan yang masih ku sesalkan sampai sekarang adalah ketinggalan Al quran (warna pink) dan selimut dengan sulaman namaku yang disulam oleh ibu. Walaupun judulnya ketinggalan pada saat pindah dari pondok, tetep ada rasa kehilangan karena aku tidak bisa melihat dan menyentuh barang berharga pemberian seseorang yang berarti buat kita.

Cerita kehilangan tidak berhenti sampai disitu. Saat ini kami sedang kehilangan momen kebersamaan dengan anggota keluarga yang lengkap. Hal ini dikarenakan adik-adik sudah kembali lagi ke sekolah masing- masing di perantauan. Kali ini aku melihat sendiri bagaimana istilah "empty nest" yang dirasakan orang tua ketika anak-anaknya pergi meninggalkan rumah. Kalau aku boleh berharap, inginku kita berlima bisa selalu berkumpul bersama di rumah.

Kehilangan membawa kita pada sebuah hikmah, bahwa sebenarnya semua hal di dunia akhirat ini milik Allah. Baik itu harta benda, kemampuan, orang tersayang atau bahkan momen yang kita alami, itu semua hanyalah titipan dariNya. Kita sebagai manusia hanya bisa menjaga amanahNya dengan sebaik yang kita bisa. Dan pada akhirnya kita semua akan kembali kepadaNya.

Maka, ketika kesedihan karena berpisah (sementara, insyaaAllah) dengan adik ini datang, atau kesedihan karena kehilangan lainnya, semoga aku ingat untuk berbisik, "Sesungguhnya semua milikMu, dan semua akan kembali kepadaMu"

Rabu, 21 Juni 2017

Bahagia yang sederhana

Cerita ini adalah cerita tentang hari kemarin, dimana ada beberapa kebahagiaan yang aku rasakan. Kebahagiaan yang mungkin sederhana untuk dipikirkan, tapi istimewa bila dirasakan,

Kebahagiaan pertama ku rasakan pada saat ke kariadi dengan tujuan meminta surat keterangan dokter untuk bapak. Setelah sampai di RS Kariadi, aku mengutarakan tujuanku. Selang beberapa saat, aku  diminta oleh suster untuk menunggu bagian administrasi yang mengurus surat keterangan dokter di ruang suster. Lalu aku masuk dan duduk di sofa yang ada di dalam ruang tunggu tersebut.

Bosan menunggu, aku pun membuka hp dan memainkan sebuah game yang ada di hp. Beberapa saat setelah menunggu (sambil main hp) di ruang suster, seseorang masuk dan duduk di sofa persis disebelahku. Kita sebut saja seseorang itu adalah mas dokter.

Sebagai informasi, mas dokter adalah dokter muda (perkiraan usia 20 akhir-30 awal) yang bertugas di bagian cardiovascular tempat bapak dirawat. Beliau seperti tipe pria jawa yang kalem, perawakan tinggi berisi, dan mata sayu karena lelah kurang tidur (dari observasi sederhana).

Sejak beberapa hari menginap di RS untuk menemani bapak, aku beberapa kali melihat mas dokter mondar-mandir dengan jas putihnya dan beberapa file di tangan. Dari perawakan dan tingkah lakunya, terpancar aura "wah dokter ini keren ya" yang membuatku terkagum padanya.

Lanjut pada cerita di ruang suster, mas dokter duduk di sebelahku dan mulai membuka hpnya. Zeengg.. disitu aku merasa canggung sekali karena tidak ada bahan obrolan. Berapa kali terpikir untuk menyapa "hai dok, gimana kabarnya" "Habis periksa pasien, dok?" sampai rencana untuk menoleh dan cuma tersenyum menyapa mas dokter. Tapi rasa canggung mengalahkan keberanian untuk menyapa. Disamping itu, aku sudah terlanjur terlihat main game di hp waktu itu, sungguh bukan first impression yang baik (untuk memulai pembicaraan dengan mas dokter).

Akhirnya kebekuan itu dipecahkan oleh suster yang masuk membawa form surat keterangan dokter. Form itu oleh suster langsung diberikan ke mas dokter.

Kemudian mas dokter mulai membuka obrolan sembari mengisi form surat keterangan dokter.

"bapaknya dosen ya?
"iya"
"dosen dimana?
"UIN"
"Ini suratnya, nanti dikasih amplop sama suster ya" katanya sambil memberikan suratnya padaku.

Yeah, maybe its just a little talk, but its really meant something for me...

Buatku yang cuma bisa lihat mas dokter mondar-mandir, siang itu aku merasa bahagia karena bisa mengobrol sepatah-dua patah kata dengan mas dokter.

Tapi ya tetap saja, kagum hanya sebatas kagum, kagum karena dedikasinya sebagai dokter terhadap kesembuhan pasien. Mantap!

Kebahagiaan kedua kurasakan ketika pergi ke toko musik yang ada di jl Pandanaran Semarang. Singkat cerita tujuanku ke toko musik adalah membeli adaptor keyboard yamaha yang colokannya bengkok akibat terjatuh karena kecerobohanku dalam mengepel sehingga menyenggol adaptor tsb (panjang ya lol).

Kembali ke toko musik, setelah menyampaikan niat hati kepada mbak penjaga toko, adaptor yang akan ku dibeli oleh mbak penjaga diberikan kepada mas-mas bagian keyboard. Kita sebut saja mas keyboard.

Setelah adaptor dicobakan ke keyboard, mas keyboard bertanya kepadaku "emang adaptor yang lama kenapa mbak?"

"ini mas, colokannya bengkok, kayak gini" aku menunjukan adaptor yang lama ke mas keyboard.

Tanpa sulap, tanpa sihir, tiba-tiba colokan keyboard yang bengkok itu bisa diluruskan kembali sama mas keyboard.

"Loh mas, nggak jadi beli adaptor, nggak apa jadinya?"
"Nggak apa mbak, malah hemat uangnya buat lebaran"

Alhamdulillah, ternyata kebaikan kecil dari orang lain bisa membuat hati kita bahagia ya. Mungkin itulah mengapa sebagai manusia seharusnya kita selalu berusaha untuk menjadi orang baik, karena sekecil apapun perbuatan baik kita bisa berarti kepada seseorang, bukan?

Kebahagiaan ketiga adalah kebahagiaan yang paling membahagiakan yang ku rasakan di hari kemarin. yaitu bisa tarawih di masjid untuk pertama kali dalam ramadhan ini, yeaaaay!

Kebahagiaan ini merupakan perwujudan kerinduan akan tarawih di masjid, karena sebelumnya selalu berhalangan untuk tarawih di masjid mengingat kondisi yang tidak memunkinkan untuk meninggalkan orang tua berdua di rumah dengan keadaan bapak yang masih perlu banyak dibantu. Alhamdulillah kemarin bisa ke masjid karena keadaan bapak sudah stabil.

Kebahagiaan yang sederhana ini, entah mengapa begitu berkesan. Mungkin karena kebahagiaan ini datang setelah kesedihan yang dialami selama awal ramadhan kemarin ketika keadaan bapak masih belum stabil.

Bukankah Allah telah berjanji bahwa di setiap kesusahan terdapat kemudahan, dan juga janji Allah itu benar? Maka kenapa kita harus terus menerus dalam kesedihan?

Semoga kita semua selalu menjadi orang-orang yang berbahagia :)